BANGKRUT BUKAN BERARTI TUTUP

Beberapa waktu lalu saya menonton film “Catch Me if You Can” yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio dan Tom Hanks. Film keren ini disutradarai oleh Steven Spielberg. Saya tidak akan menceritakan synopsis film tersebut. Film ini mengambil latar penerbangan PAN AM (Pan American World Airways, maskapai penerbangan Amerika Serikat yang beroperasi dari tahun 1930-an hingga 1991) dan karena muncul latar PAN AM, maka saya teringat dengan Garuda Indonesia!

Berita dari KOMPAS.com: PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menargetkan perolehan laba bersih sebesar 8,7 juta dollar AS atau sekitar Rp 117,45 miliar (kurs Rp 13.500 per dollar AS) pada tahun 2018 ini. lalu maskapai pelat merah ini mengalami kerugian 213,4 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,88 triliun.

Kerugian maskapai Garuda Indonesia kembali menjadi trending topik berita, yaitu tahun 2018 ini rugi sebesar 2,88 triliun. Sebenarnya bukan hanya tahun ini kerugian ini terpampang di media publik. Pada tahun 2014 kerugian Garuda Indonesia tercatat sebesar 368,9 juta dollar AS atau Rp 4,8 triliun, lebih banyak dari tahun 2018! Bahkan dari tahun 2004 berita kerugian Garuda sudah terpampang sebesar Rp 811 miliar.

Apabila dari tahun 2004 sampai tahun 2018 (14 tahun) setiap tahun diberitakan mengalami kerugian hingga sampai mencapai angka 1 triliun lebih, mengapa tidak bangkrut? Apakah hanya alasan perusahaan milik negara (BUMN) sehingga akan selalu ‘disuntik’ dana oleh negara? Tentu saja mereka, para karyawan Garuda yang sudah bekerja selama lebih dari 20 tahun dan setiap tahun mendengar berita kerugian ini tidak akan kaget. Bahkan ketika ada berita tentang tanda-tanda kebangkrutan Garuda, mereka akan tersenyum dan seolah-olah mengatakan kepada para kritikus tersebut, “Lo tahu apa?”

Lalu mengapa saya teringat tentang PAN AM? Maskapai kepunyaan Negara Amerika yang ternyata bangkrut dan tinggal nama ini?

Kisah awal mula PAN AM ini hampir nyaris sama dengan Garuda secara ‘historical nation’. Garuda dengan RII Seulawah adalah Pesawat jenis Dakota dengan nomor sayap RI-001 yang  dibeli dari uang sumbangan rakyat Aceh. Pesawat Dakota RI-001 Seulawah ini adalah cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways. Pesawat ini sangat besar jasanya dalam perjuangan awal pembentukan negara Indonesia. PAN AM juga demikian, didirikan pada 14 Maret 1927, sebagai maskapai pembawa surat dari Florida, Miami, dan Havana, oleh Major Henry H. “Hap” Arnold dan kawan-kawan.

Kebangkrutan PAN AM dimulai dari tahun 1973, yaitu saat terjadi krisis minyak dunia yang menyebabkan penurunan jumlah penumpang dan margin keuntungan maskapai ini. Yang menjadi menarik adalah kesamaan tentang penjualan asset-aset perusahaan antara PAN NAM dan GARUDUA. William Seawell, CEO Pan Am saat itu, mulai menjual aset-aset Pan Am, seperti jaringan hotel Intercontinental, dan markas besar Pan Am (Pan Am Building) di Florida.

Perang Teluk tahun 1990 merupakan pukulan berat bagi maskapai PAN AM, yang akhirnya menyatakan bangkrut pada tanggal 8 Januari 1991. Setelah tahun 1991, ada tiga perusahaan yang mencoba membeli PAN AM dan beroperasi hingga tahun 2005. Setelah tahun 2005 nama PAN AM benar-benar hilang dari peredaran dunia penerbangan komersial.

Apakah kebangkrutan Garuda dapat menjadi seperti PAN AM yang akhirnya tutup? Dulu, Garuda dikenal sebagai perusahaan BUMN penyedia lapangan kerja sehingga rekrutmen pegawai yang menjadi pegawai tetap secara regular diadakan, artinya 100% karyawan merupakan pegawai tetap. Namun saat ini, secara berangsur-angsur dari tahun 2002, status pegawai tetap dikurangi dan hampir semua pegawai berstatus ‘kontrak’. Apabila menunggu para pegawai tetap pensiun (diperkirakan tahun 2022 adalah habisnya para pegawai tetap) dan hanya tersisa 10% saja. Maka maskapai ini akan sangat mudah sekali untuk diswastakan!

Tidak heran, para karyawan yang sudah sejak lama mendengar desas-desus bahwa maskapai ini akan dibangrutkan sehingga nantinya akan ada investor baru dengan manajemen baru. Dan merekapun sudah bersiap-siap apabila suatu saat akan ada ‘assesment’ yang akan menentukan siapa saja yang masih berkompeten untuk duduk di jabatannya pada manajemen baru tersebut.

Akankah cerita PAN AM terulang pada Garuda Indonesia?