Chris Cornell antara kekayaan dan kematian

By | July 15, 2017

Kaya raya, terkenal dan banyak ‘fans’, apalagi yang kurang?

Itulah yang dimiliki oleh Chris Cornell, Vokalis dan gitaris dari Soundgarden. Serangkaian tur musik dijalaninya dengan dielu-elukan penggemar baik itu dipanggung maupun di jalan-jalan. Uang yang didapatnya dapat untuk membeli vila mewah di Beverly Hills juga mobil mewah edisi khusus Porsche Speedster Spyder.

Kaya raya, terkenal dan banyak fans, mungkin itulah yang ingin diraih oleh sebagian besar anak muda yang sangat termotivasi untuk mewujudkan mimpinya (atau juga yang tidak muda lagi?). Bahkan ‘jargon-jargon’ motivasi dan langkah-langkah mudah menjadi milyarder banyak diseminarkan. Tentu saja, tujuannya adalah menjadi kaya entah dengan cara berbisnis atau bekerja.

Kekayaan, walau tidak identik dengan kebahagiaan masih dikejar sebagai tujuan nomor satu dalam kehidupan, dengan alasan bahwa “Uang bukan nomor satu, namun segala sesuatu butuh uang” – artinya memang uang masih sangat penting karena segala sesuatu masih membutuhkan uang.

Chris Cornell, seperti di atas, memiliki semua kekayaan tersebut. Namun pada tanggal 17 Mei 2107 Chris ditemukan meninggal di kamar hotel setelah Chris tampil bersama Soundgarden di Fox Theater, Detroit, AS. Dan penyebab meninggalnya Chris adalah bunuh diri dengan cara gantung diri di kamar mandi hotelnya.

Mungkin kematian dengan bunuh diri seperti Chris Cornell bukan kasus pertama yang kita dengar. Artis terkenal, kaya raya dan bunuh diri pernah kita dengar juga sebelumnya. Namun seolah-olah berita tersebut hanya seperti angin lalu yang lewat begitu saja. Sampai kini masih banyak yang ingin menjadi terkenal, kaya raya dan banyak fans.

Apa yang terjadi dengan Chris Cornell? Mungkin tak seorangpun tahu. Apa yang ia rasakan, beban apa yang ia tanggung dan masalah apa yang sedang terjadi? Tak seorangpun tahu, bahkan istri Chirs sendiri tidak tahu, karena setelah kematian Chris, istrinya membuat surat terbuka yang kemudian dipublikasikan lewat Billboard.

Saya copykan surat tersebut yang saya ambi dari rollingstone.co.id :

Untuk Christopher tersayang,

Kamu adalah ayah, suami dan menantu terbaik. Kamu selalu menunjukkan kesabaran, empati, dan kasih sayang.

Kamu selalu mengatakan bahwa aku telah menyelamatkan dirimu, bahwa kamu tidak akan hidup jika bukan karena diriku. Hati saya senang melihat dirimu senang, hidup dan termotivasi. Senang untuk menjalani hidup. Melakukan apa pun yang kamu bisa membalas budi. Kita punya waktu hidup bersama di dekade terakhir dan aku memohon maaf, cintaku, aku tidak mengetahui apa yang terjadi denganmu malam itu. Aku mohon maaf kamu sendirian, dan aku tahu itu bukan dirimu yang sebenarnya, Christopher-ku sayang. Anak-anakmu juga tahu itu, jadi kamu bisa beristirahat dengan damai.

Aku patah hati, tapi aku akan mendukungmu dan aku akan mengurus anak-anak kita. Aku akan memikirkanmu setiap menit di setiap harinya dan aku akan berjuang untuk dirimu. Kamu benar ketika mengatakan bahwa kita adalah belahan jiwa. Aku bisa katakan bahwa jalan yang telah kita lalui bersama akan kita lalui lagi, dan aku tahu kamu akan menemukanku, dan aku akan menunggumu di sini.

Aku mencintaimu lebih dari siapa pun yang mencintai orang lain di sejarah percintaan dan lebih dari siapa pun yang akan melakukannya.

Selalu dan selamanya,

Vicky-mu

Kalau sampai isrti Chris tidak menyadari sebuah beban yang dialami oleh suaminya dan Chris harus membawanya sendiri, menanggung sendiri sampai merasa tidak kuat dan memutuskan bunuh diri, maka ada yang ‘salah’ dengan hubungan seperti itu. Seharusnya, (kembali lagi bahwa ini adalah angan-angan ideal), bahwa penyertaan istri Chris tidak akan sampai menjadikan kejadian bunuh diri tersebut yang bagi Chris menegaskan sebuah pesan bahwa “tidak mampu lagi meneruskan hidup karena sebab tertentu”.

Terlepas dari penyebab kematian dengan gantung diri bagi Chris Cornell, kita semua yang membaca berita tersebut kembali disadarkan (kalau sadar) bahwa kekayaan dan ketenaran bukanlah segala-galanya. Memang tidak ada yang salah mengejar kekayaan dan ingin mewujudkan menjadi orang kaya. Namun ketika keinginan itu menjadi sebuah obsesi maka ketidaksadaran akan menyertai langkah untuk meraih kekayaan.

Mungkinkah ada relung batin yang kosong yang tidak dapat diisi oleh kekayaan dan ketenaran? Relung batin yang hanya dapat diisi oleh keheningan? Mungkin saja. Lalu berapa banyak berita seperti ini lagi yang dapat menyadarkan kita bahwa kekayaan dan ketenaran bukanlah segala-galanya?

Ataukah kita menunggu berita yang sama yang akan kita dengar? Sebelum semua terlambat, ada baiknya kita kembali melihat semua hal yang sudah, sedang dan akan kita lakukan. Apa obesimu? Dan untuk apa kau lakukan semua ini?

“Dan bagi Anda yang menyertai orang terdekat Anda untuk tumbuh bersama, jangan biarkan ia menanggung bebannya sendiri dan membiarkan ia menyelesaikannya sendiri. Cinta dan kasih sayang Anda merupakan harta yang tak ternilai dari bentuk kekayaan dan ketenaran apapun juga”.

Salam damai.