Dendam Positif!

By | September 18, 2017

Kekecewaan seringkali menjadi sebuah dendam. Dikecewakan oleh atasan, oleh teman sekerja, oleh peraturan perusahaan, atau oleh sebab-sebab lainnya. Sebaian besar seseorang bisa dipastikan pernah mengalami kekecewaan atau pernah dikecewakan.

Tidak terkecuali saya sendiri. Saya bisa menulis sampai 15 buku, memberikan Training dan Seminar pemberdayaan diri di perusahaan-perusahaan besar, hal tersebut juga karena saya pernah dikecewakan oleh keadaan!  Kecewa karena saya saat itu dianggap masih Junior untuk masuk dalam devisi pendidikan dan latihan di perusahaan tempat saya bekerja. Rasa kecewa saya tersebut yang kemudian memicu saya untuk melompat lebih jauh dengan cara melakukan ‘turn arround’!

Bagi banyak orang, ketika rasa kecewa menjadi sebuah hambatan mental, maka ia akan menghambat kemajuan yang ingin dicapai. Apalagi apabila rasa kecewa tersebut menjadi sebuah dendam yang negative, tentu saja rasa dendam tersebut akan mengakibatkan tindakan-tindakan merugikan baik untuk diri sendiri maupun lingkungan yang ada.

Saya ingin menekankan bawa kecewa itu adalah hal yang biasa, namun membuat kekecewaan menjadi sebuah loncatan kemajuan itu baru luar biasa! Untuk itu mari kita buat dendam kita menjadi dendam positif.

Dendam positif, apakah itu?

Dalam sebuah hambatan disana terletak harapan. Dalam sebuah rintangan disana terletak cara bagaimana mengatasinya. Yang jadi persoalan adalah pola pikir kita, apakah pikiran akan menganggap bahwa hambatan adalah penghambat kemajuan, atau secercah harapan? Tentu kita setuju bahwa pola pikir yang bermanfaat adalah memandang sesuatu dari sudut pandang yang membangun dan memajukan kehidupan.

Apabila anda punya kekecewaan terhadap situasi kerja anda, jangan dibuang. Mari kita buat rasa kecewa anda menjadi dendam yang positif! Mengapa saya meningkatkan dari kecewa menjadi dendam?

Saya meng-analogikan demikian: seseorang yang mau meloncati sebuah jurang, tentu saja ia harus mempunyai tenaga yang berlipat untuk bisa sampai di tebing satunya. Apabila ia hanya berlari biasa saja tentu saja lompatannya tidak akan jauh. Untuk itu ia harus mengambil jarak untuk berlari cepat sehingga ia mempunyai tenaga dorong yang besar untuk meloncat.

Demikian pula kita. Bila kita menginginkan kemajuan yang pesat maka kita perlu tenaga dorong yang lebih besar dari yang ada sekarang. Tenaga dorong bagi kemajuan pesat itulah yang saya namakan dendam positif.

Inilah cara mengubah rasa kecewa menjadi Dendam Positif:

  1. Rumuskan dengan pasti anda kecewa karena apa

Kebanyakan kita tidak bisa merumuskan kita kecewa karena apa. Maksud saya adalah kita menyadari betul tentang potensi kita dan kegagalan kita disebabkan oleh apa. Yang membuat kita kecewa itu apa. Apakah karena tujuan yang tidak tercapai ataukah halangan yang ada? Saya berharap anda kecewa karena tujuan tidak tercapai sehingga bisa focus bagaimana membuat strategi baru mencapai tujuan tersebut, bukan terpaku kepada halangan yang menghalangi anda.

  1. Segera menyadari bahwa bangkit lagi itu lebih bagus daripada meratapi kekecewaan.

Artinya tidak ada artinya berpangku tangan meratapi kekecewaan tanpa melakukan apapun juga.

  1. Rumuskan tujuan dengan lebih detail dari semula.

Ada kemungkinan tujuan awal kita belum detail. Pikiran hanya bisa menerima perintah secara detail. Contoh: tujuan awal adalah saya ingin sukses bekerja. Nah, kalimat sukses bekerja ini belum detail. Pikiran perlu hal detail supaya dia bisa merumuskan langkahnya. Sukses di bidang apa? Dalam berapa tahun? Dengan penghasilan berapa?

  1. Cari manfaat yang lebih banyak dari tujuan yang dibuat

Langkah kita akan cepat terealisasi apabila selaras dengan alam. Selaras dengan alam artinya adalah banyak manfaat yang akan ditebarkan dengan tujuan yang kita buat. Tengok lagi, apakah manfaat yang kita berikan apabila tujuan kita tercapai? Apakah tujuan kita tersebut akan bermanfaat bagi orang banyak atau hanya untuk kepentingan pribadi kita sendiri?

  1. Turn Arround!

Segera lakukan langkah-langkah baru dan arah baru untuk mencapai tujuan tersebut. Jangan terpaku hanya dengan satu langkah yang pernah gagal tersebut. Segera berbalik arah dan buat terobosan untuk mencapai tujuan anda.

Apabila saat itu saya hanya berharap dari satu cara, yaitu menjadi instruktur di perusahaan, maka kemungkinan saya tidak akan menghasilkan karya seperti sekarang. Setelah saya kecewa, maka saya merumuskan kembali tujuan saya dan menggali manfaat apa yang bisa saya tebar dari tujuan tersebut. Kemudian untuk mencapai tujuan tersebut saya merasakan bahwa saya harus melakukan ‘branding’ lewat menulis buku (turn around), maka lahirlah buku-buku saya.