EMPLOYEE ADVOCACY

By | February 12, 2018

Tadi sore saya menonton berita di salah satu stasiun teve yang menanyangkan satuan polisi yang menyanyikan lagu ‘rumah kita’. Video lagu lipsing yang dibuat sederhana namun menampilkan sebuah pesan khusus dari kebanggaan seragam yang dipakainya. Hal ini mengingatkan saya bahwa jaman sekarang, hampir setiap profesi merasa bangga menampilkan seragam atau ciri khas pekerjaannya di ruang umum di media sosial.

Tentu saja kondisi seperti ini berbeda pada era tahun 1990-2000. Banyak perusahaan yang memberikan larangan untuk menampilkan identitasnya, baik itu seragam maupun ciri khas perusahaan di media umum. Bahkan kegiatan-kegiatan yang merupakan kegiatan vital bagi sebuah perusahaan seperti dapur di restoran atau hotel dan juga dapur di pesawat, saat itu seakan-akan disembunyikan kegiatan dan suasananya.

Namun kini, sebuah dapur restoran dibiarkan terbuka dan setiap pengunjung dapat melihat kegiatan rinci yang terjadi di sana. Kemudian para Pramugari juga tidak canggung lagi berbagi fotonya saat ada di dapur pesawat. Mereka yang berada di kantor juga demikian, yaitu dengan bangga berbagi foto saat berada di meja kerja kantornya.

Hal ini tentu saja tidak boleh dilewatkan oleh perusahaan, yaitu sebuah kegiatan yang bernama Employee Advocacy. Kalau dulu perusahaan akan merasa cemas ada bagian dalam perusahaan yang akan diketahui oleh competitor, kini dengan perkembangan teknologi dan suasana kerja, perusahaan harus mengubah paradigma berbagi kondisi kerja ini menjadi sebuah kegiatan yang dapat dijadikan sebagai bentuk employee engagement.

Tentu saja, para manager perusahaan mempunyai tugas untuk menumbuhkan sense of purpose dalam pekerjaan sehingga setiap karyawan akan merasa bangga berada di perusahaannya. Memberikan ruang bicara, menyampaikan pendapat dan tantangan baru adalah salah satu cara untuk menumbuhkan sense of purpose. Yang tak kalah penting adalah ‘memberikan panggung’ sehingga karyawan merasa dihargai dan dianggap ada perannya di perusahaan.

Apabila sense of purpose telah tumbuh, maka dengan sendirinya ia akan melakukan tindakan yang termasuk employee advocacy. Para karyawan akan menjadi ‘mesin iklan’ bagi perusahaan yang selalu mengabarkan corporate brand di manapun juga. Foto kegiatan dengan seragam dan identitas perusahaan merupakan ciri employee advocacy. Dan ini sangat ampuh sekali dampaknya bagi produk perusahaan itu sendiri.

Perusahaan yang kemudian menjembatani kegiatan employee advocacy dengan tepat dan maksimal juga akan meraih pengaruh dari employee engagement. Setiap karyawan akan terhubung dan saling rekat dengan adanya komunikasi, berbagi dan juga tampilan kawan-kawannya dari media sosial tersebut.

Untuk mencapai hal ini, maka peran coaching dan mentoring yang dilakukan pada setiap bagian dan devisi harus dimaksimalkan, terutama pembekalan para manager terhadap apa itu coaching dan mentoring.

Agung Webe

Corporate Service Strategy

www.agungwebe.org

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *