JATI DIRI

Saya dan mungkin anda sering menemukan istilah-istilah ini: ‘mencari jati diri’ – ‘menemukan jati diri’ atau ada orang yang menyebut orang lain: ‘dia telah menemukan jati dirinya’

Lalu apa sebenarnya Jati Diri itu?

Mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata Jati Diri adalah ciri-ciri, gambaran, atau keadaan khusus seseorang atau suatu benda, bisa pula berarti identitas, semangat, dan daya gerak dari dalam.

Kemudian ada ungkapan yang bagi saya sangat rancu, seperti: “Hanya orang yang sudah mengenal jati dirinya yang bisa mengenal Tuhan.”

Atau,

Dia sudah mengenal jati dirinya, karena itu dia sudah tercerahkan.”

Mungkin kalimat-kalimat yang sering kita dengar di atas sudah rancu dengan istilah ‘Diri Sejati’ atau aku yang bukan badan, bukan pikiran dan bukan perasaan. Aku yang melampaui semua hal yang bisa diidentifikasikan.

Istilah Jati Diri, menurut saya bukanlah hal di atas, karena Jati Diri masih bisa diidentifikasi, punya ciri, punya gambaran, mempunyai sifat keadaan khusus dan ada identitas. Seperti halnya istilah Jati Diri sebuah bangsa, yaitu ciri, gambaran, keadaan khusus dan identitas dari bangsa tersebut.

Jati Diri bagi sebuah perusahaan terwujud melalui ‘brand personality’ yang kemudian diimplementasikan di dalam ‘corporate culture’. Mengapa sebuah perusahaan perlu membangun Jati Diri? Ya, agar punya ciri, keadaan khusus dan identitas. Sehingga ketika seseorang mengingat satu hal kecil yang berhubungan dengan ciri perusahaan tersebut, maka ia akan langsung ingat perusahaan secara keseluruhan.

Bagi individu, seberapa besar perlunya membangun Jati Diri? Saya memakai istilah membangun, karena Jati Diri tidak pernah hilang dari diri seseorang dan tidak pernah jauh. Dan Jati Diri ini berkembang sesuai peran seseorang saat itu.

Saya berikan contoh demikian:

Seorang siswa sekolah perlu membangun Jati Dirinya sebagai pelajar agar tugas-tugasnya dalam belajar dapat maksimal dilakukan. Apabila kita tahu bahwa Jati Diri adalah: ciri, gambaran, sifat keadaan khusus dan identitas, maka seorang pelajar perlu membangun ciri seorang pelajar seperti apa, gambaran seorang pelajar seperti apa, sifat keadaan khusus seorang pelajar dan identitas seorang pelajar.

Seorang pelajar dikatakan tidak mengenal Jati Dirinya apabila ciri, gambaran, sifat, keadaan khusus dan identitasnya tidak mencerminkan sebagai pelajar.

Jadi apakah ada hubungannya Jati Diri dengan mengenal Tuhan? Menurut saya tidak ada. Mengapa tidak ada? Karena Jati Diri adalah berhubungan dengan komunikasi keluar. Yaitu bagaimana kita memberikan sebuah ciri, gambaran, sifat, keadaan khusus dan identitas kepada orang-orang yang melihat kita sehingga mereka mengenali kita secara otentik.

Sedangkan komunikasi ke dalam (berhubungan dengan Tuhan) justru harus menanggalkan Jati Diri. Berhadapan dengan Tuhan, selayaknya kita menanggalkan semua ego yang kita punya termasuk ciri, gambaran, sifat, keadaan khusus dan identitas.

Kembali kepada Jati Diri.

Apabila pekerjaan anda berhubungan dengan orang banyak, menyukai networking, membangun pasar dan produk, tentu saja anda perlu membangun Jati Diri anda sehingga pasar mengenal ciri dan identitas anda. Atau produk yang anda jual mempunyai ciri, gambaran, sifat, keadaan khusus dan identitas sehingga calon pembeli mudah mengenalinya.

Bagi saya, Jati Diri dalam bahasa kekinian adalah ‘Brand identity’.

Setiap profesi, apabila berhasil membangun Jati Diri akan mudah dikenali. Jati Diri seorang Trainer tentu berbeda dengan Jati Diri seorang karyawan. Jati Diri seorang wirausaha tentu berbeda Jati Diri dengan seorang rohaniawan. Jari Diri seorang internet marketing juga tentu berbeda dengan Jati Diri seorang guru. Demikian seterusnya.

Apakah anda sudah membangun Jati Diri anda?

Pertanyaan ini terkait dengan: “Seberapa penting orang lain mengenal anda secara otentik?

Nah, ada orang yang hidup apa adanya dengan spontan. Ia mengalir dengan apapun yang ada dalam kehidupannya. Kemudian apakah orang seperti ini tidak membangun Jati Diri? Apabila orang lain mengenal sebuah ciri, gambaran, sifat, keadaan khusus dan identitas tentang dirinya yang spontan, maka itulah Jati Dirinya.

Saya akan menyarankan anda yang berkomunikasi keluar untuk membangun Jati Diri anda karena ini adalah ‘brand identity’ yang diperlukan dalam melakukan penetrasi pasar terhadap produk-produk yang anda punya.

Lalu saya akan menyarankan anda yang berkomunikasi ke dalam untuk melenyapkan Jati Diri anda karena di hadapan Tuhan anda tidak butuh ciri, gambaran, sifat, keadaan khusus dan identitas sebagai ego manusia anda.

Kini, anda sendiri yang memahami, apakah anda perlu membangun Jati Diri atau bahkan perlu melenyapkannya. Atau anda dapat mengaturnya, kapan anda menggunakan Jati Diri ketika berkomunikasi ke luar dan kapan melenyapkan Jati Diri ketika berkomunikasi ke dalam.

Salam

Agung webe