KRITIK atau NYINYIR?

Mungkin, kita belum mengenal dan memahami lebih dalam apa itu Literasi. Padahal saat ini pemerintah sedang menggalakkan program literasi bagi negara kita yang sedang berkembang. Sehingga apabila seseorang melihat ada sebuah posting artikel yang tidak sesuai dengan artikel lain, atau tulisan yang berseberangan dengan isi sebuah buku yang pernah dibacanya, maka segera cap ‘nyinyir’ akan hinggap di sana.

Di Negara maju, ketika literasi sudah menjadi budaya tersendiri, sebuah pemikiran akan menjadi beragam. Bahkan terjadinya tulisan yang membantah tulisan lain menjadi hal biasa dan diterima dengan pikiran terbuka dalam kerangka kebebasan mengemukakan pendapat yang dapat dipertanggung jawabkan. Akhirnya melalui leterasi, salah satunya, sebuah tesis yang melahirkan antitesis dan akhirnya melahirkan sintesa akan selalu mewarnai tumbuhnya pemikiran-pemikiran yang makin modern dan sesuai dengan kondisi jaman saat itu.

Model dialog dari tesis-antitesis-sintesa adalah model dialog yang dikenalkan oleh Hegel. Bagi yang belum mengenal Hegel, nama aslinya adalah Georg Wilhelm Friedrich Hegel. (lahir 27 Agustus 1770 – meninggal 14 November 1831 pada umur 61 tahun) adalah seorang filsuf idealis Jerman yang lahir di Stuttgart, Württemberg. Hegel dikenal sebagai filsuf yang menggunakan dialektika sebagai metode berfilsafat. Dialektika menurut Hegel adalah dua hal yang dipertentangkan lalu didamaikan, atau biasa dikenal dengan tesis (pengiyaan), antitesis (pengingkaran) dan sintesis (kesatuan kontradiksi) – sumber Wikipedia.

Yang belum memahami hal tersebut akan mudah memberikan cap bagi orang yang sedang mengemukakan pendapat berbeda dengan cap nyinyir. Apapun yang berbeda dikatakan nyinyir. Padahal kalau dilihat arti sebenarnya dari nyinyir sesuai KBBI adalah perkataan yang diulang-ulang. Nah, penggunaan kata nyinyir saja tidak tepat.

Perbedaan bagi orang yang belum dewasa dianggap sebagai hal yang berniat menjatuhkan. Padahal mengungkapkan ide dan pendapat yang berbeda bukanlah mencaci, bukan menjelekkan dan bukan melawan. Apalagi apabila ide dan pendapat yang berbeda tersebut mengandung sebuah gagasan yang mempunyai dasar pemikiran atau fakta dari sudut pandang yang lain, artinya bisa jadi hal tersebut merupakan masukan atau kritik yang membangun.

Yang kita hindari adalah celaan atau hujatan yang hanya didasari rasa iri dengki dan kebencian, contohnya demikian:

“Agung webe itu norak dan comel! Statusnya panjang nggak jelas! Kayak gitu kok banyak like dan komen? Mending delete!”

Namun beda halnya ketika ada yang tidak satu pemikiran namun memberikan pandangan dan alasannya,

Self Talk dan Afirmasi yang dikemukakan oleh Agung webe tidak dapat dilakukan begitu saja. Tidak setiap orang langsung cocok menerapkan self talk dan afirmasi. Ada yang perlu dibangun terlebih dulu yaitu: self efficacy, self esteem, self worth dan self respect terlebih dulu.”

Mungkin belum semua dari kita memahami terlalu dalam Literasi. Sehingga ketika model dialog Hegel (dialetika) digunakan, maka seseorang yang menulis tentang antitesis ataupun ‘sintesa’ dianggap ‘mencari onar’ atau ‘menjatuhkan’ tesis sebelumnya.

Namun setidaknya, Dengan adanya media sosial, masing-masing dari kita mulai melihat dan membaca hal-hal yang berseberangan dan tidak menyetujui pendapat sebelumnya dengan penuh tanggung jawab. Artinya proses Literasi dalam konteks dialetika Hegel akan berjalan apabila yang mengemukakan antitesis maupun sintesa menguaraikan pendapatnya dengan solusi yang baru atau pendapat baru. Bukan hanya menyalahkan atau mengatakan jelek pendapat sebelumnya. Bila seseorang hanya sekedar tidak setuju, lalu menyalahkan dan menjelekkan, hal tersebut bukanlah dialetika. Hal itulah yang disebut dengan istilah ‘nyinyir’, yaitu tindakan menjelakkan tanpa arumentasi pendapat yang menjadi solusi selanjutnya.

Dalam konteks memasyarakatkan Literasi ini, kita dapat melihat apakah seseorang sedang mengajak untuk melakukan proses dialetika Hegel, atau hanya sekedar ‘nyinyir’ tadi?

Baik, saya kembali kepada Literasi. Apa itu Literasi?

Istilah literasi dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Inggris literacy yang secara etimologi berasal dari bahasa Latin literatus, yang berarti orang yang belajar. Dalam bahasa Latin juga terdapat istilah littera (huruf) yaitu sistem tulisan dengan konvensi yang menyertainya.

Pengertian literasi menurut UNESCO adalah seperangkat keterampilan nyata, khususnya keterampilan kognitif membaca dan menulis, yang terlepas dari konteks di mana keterampilan itu diperoleh dari siapa serta cara memperolehnya.

Dalam kamus online Merriam-Webster, pengertian Literasi adalah kualitas atau kemampuan “melek aksara” yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis serta kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (video, gambar).

National Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.

(pengertian Literasi di atas saya ambil dari beberapa sumber internet)

Bagi saya sendiri, Literasi adalah kemampuan memahami sebuah ide, baik itu lewat tulisan, gambar maupun video kemudian diterapkan secara otentik (terjadi reinterpretasi individu) dalam lingkup kehidupan dan pekerjaan yang dijalaninya.

Untuk itu, memasyarakatkan Literasi adalah mengajak untuk berpikir secara terbuka dan menerima perbedaan dari segala sudut yang ada. Dengan demikian wawasan semakin berkembang dan konteks dari sebuah ide dapat diterapkan sesuai dengan jaman, budaya dan kondisi demografi alam setempat.