JAVANESE WISDOM

Rp75,000.00

Harga buku ini Rp 75.000 (belum ongkos kirim)

Jika anda memutuskan membelinya, silahkan whatsapp ke nomer 0818694665 dengan pesan:

JAVANESE/nama/alamat lengkap pengiriman (untuk mengetahui biaya kirim)

Lalu kami akan replay biaya total (harga buku+biaya kirim) beserta Rekening transfer yaitu bank MANDIRI atau BCA

Setelah anda transfer dan memberikan bukti transfer maka buku akan dikirimkan ke alamat anda.

Categories: ,

Description

SINOPSIS JAVANESE WISDOM

Ukuran buku 12×17 – 218 halaman

Setahun yang lalu, pada waktu saya pulang ke Jogjakarta, daerah tempat saya lahir, saya biasa mampir ke rumah Mbah Mul, tetangga saya. Mbah Mul adalah ayah dari teman saya. Yang saya sukai dari beliau adalah kalau saya duduk bersama beliau, mbah Mul selalu menembangkan lagu-lagu jawa. Bermacam-macam tembang yang dia lagukan. Hanya saja saat itu saya terkesan dengan tembang yang ia bawakan. Setelah menembangkan lagu Jawa biasanya beliau juga mengartikannya untuk saya.

“Ini tembang Kinanthi dari serat Wulang Reh, karya Sri Pakubuwono IV,” demikian katanya.

Wulang reh? Mengapa tiba-tiba saja saya tertarik dengan serat tersebut? Ya, sampai-sampai saat itu saya meminta kepada mbah Mul untuk saya rekam suaranya di tape recorder saya. Dan beliau tidak berkeberatan untuk saya rekam karena saya juga pengin bisa melagukan tembang tersebut.

Beberapa hari setelah itu, karena bapak saya juga mendengar kalau saya ingin mendapatkan serat Wulang Reh yang utuh, bapak mengusahakannya untuk mencari pinjaman buku kepada keluarga almarhun Prof. Dr. Darusuprapto yang kebetulan juga tetangga saya, dan almarhun pada waktu akhir hayatnya menjabat sebagai pembantu rektor Sastra Jawa di UGM. Dari keluarga almarhum Darusuprapto saya mendapatkan foto copy serat Wulang Reh yang pernah ditulis oleh beliau dan dicetak oleh percetakan CV. Citra Jaya- Surabaya, cetakan ke II tahun 1985. Buku inilah yang saya jadikan sumber utama dalam menulis buku ini.

Setelah saya menyelami Wulang reh, alangkah kagetnya saya karena ternyata dalam serat ini terkandung pelajaran-pelajaran yang sangat utama, terutama untuk kepemimpinan. Untuk memunculkan sifat pemimpin sejati.

Saya bukanlah ahli sastra. Saya juga tidak berkompeten untuk menerjemahkan Wulang Reh seperti para ahli sastra Jawa. Yang saya lakukan hanyalah mencoba merenungkan serat ini, mencoba menggali dan menemukan jiwa dari serat ini. Kemudian saya mencoba menuliskannya kembali dalam bahasa yang sederhana, bahasa saya sehari-hari. Itupun hanya sebatas kemampuan saya dalam memahami bahasa dari serat Wulang Reh. Tentunya disana-sini masih banyak sekali kekuarangan yang saya tuliskan.

Sebagai pelengkap saya juga menggunakan kamus bahasa kawi dan buku Wulang Reh yang ditulis oleh Karsono – diterbitkan oleh Wedatama Widya Sastra.

Wulang Reh sendiri sebenarnya mempunyai 13 tembang, yaitu:

  • Dhandhanggula
  • Kinanthi
  • Gambuh
  • Pangkur
  • Maskumambang
  • Dudukwuluh
  • Durma
  • Wirangrong
  • Pucung
  • Mijil
  • Asmaradana
  • Sinom
  • Girisa

Kesemua tembang tersebut memuat pelajaran-pelajaran utama dalam kehidupan. Namun demikan, saya hanya menuliskan lima tembang (panca tembang) di sini yang ada kaitannya dengan kepemimpinan, dengan sifat-sifat pemimpin sejati. Panca tembang itu adalah:

  1. Dhandhanggula
  2. Kinanthi
  3. Gambuh
  4. Pangkur
  5. Durma

Setiap tembang yang saya tuliskan kembali saya artikan secara bebas dalam bahasa sederhana. Setelah satu bait dalam satu tembang, saya memberikan pemaknaan dalam batas pemahaman saya, kemudian saya mencoba menuliskan refleksi untuk kepemimpinan.

Harapan saya semoga serat ini dapat menumbuhkan kembali rasa cinta kita kepada ibu pertiwi. Dapat mengembalikan kita kepada diri kita sendiri. Mencintai peninggalan para pujangga Nusantara yang ternyata mempunyai nilai-nilai yang luhur dan ajaran mulia.

Wulang Reh, demikian seperti nama serat ini adalah pelajaran untuk ‘Reh’, dimana ‘Reh’ di sini saya pahami sebagai memimpin. Jadi ‘Wulang’ adalah pelajaran, dan ‘Reh’ adalah memimpin, mempunyai arti pelajaran untuk memimpin. Sri Pakubuwono IV menuliskan serat ini untuk para putra dan cucunya. Putra dan cucunya adalah kita semua para penerus negeri ini. Seperti dalam bait di tembang Girisa, bait ke 24

 

Titi tamating carita, serat wewaler mring putra,

Kang yasa Sri Maharaja, Pakubuwono kaping pat,

Karsane Sri Maharaja, ing galih panendhanira,

Kang amaca kang miyarsa, yen lali muga elinga.

 

Akhir dari kitab ini, kitab pelajaran untuk para putraku,

Yang menulis adalah Sri Maharaja, Pakubuwono ke empat,

Harapan dari Sri Maharaja, dari kehendak hati,

Yang membaca dan yang mendengarnya, apabila lupa maka sadarlah.

Wulang Reh adalah kekayaan yang kita punyai. Kekayaan Nusantara yang ditulis oleh seorang pujangga yang berharap bahwa kita semua dapat mengenali diri sendiri dan berkesadaran sebagai pemimpin sejati. Pemimpin sejati menurut Wulang Reh adalah seorang yang telah berhasil memimpin dirinya sendiri menuju kepada kemerdekaan dan kebijaksanaan.

Dengan Wulang Reh, terjawab sudah kita akan mulai dari mana untuk membuat Indonesia jaya? Kita akan mulai dari diri kita sendiri. Jadikanlah diri kita sebagai seorang pemimpin sejati. Seorang yang dapat memimpin diri kita sendiri!

 

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “JAVANESE WISDOM”

Your email address will not be published. Required fields are marked *