RESIGN, MENGAPA TIDAK?

Resign atau pensiun dini bukanlah kata terakhir yang harus Anda ambil apabila beberapa persyaratan di bawah ini tidak ada dalam lingkungan kerja Anda. Namun sebelum saya menuliskan lebih detail apa saja hal tersebut, mari kita lihat berapa banyak di antara teman-teman yang sudah resign dan kemudian kembali lagi bekerja. Atau mondar-mandir membawa lamaran kerja kembali.

Saya memang sudah tidak berstatus sebagai karyawan. Namun, bila ada teman yang minta saran untuk pensiun dini, saya tidak segera meminta mereka mengikuti langkah saya. Mengapa? Karena memutuskan berhenti dari karyawan dan sekedar melakukan alasan menjadi pengusaha adalah sebuah perjuangan yang sangat berat. Apabila hal tersebut yang ingin Anda lakukan, maka persiapkanlah dengan matang sebelumnya, minimal lima tahun sebelum Anda mengambil keputusan untuk berhenti bekerja.

Di luar alasan untuk memilih menjadi pengusaha atas diri sendiri, menjadi sangat amat dibenarkan Anda mengajukan pengunduran diri sebagai karyawan yang diakibatkan oleh hal-hal berikut ini:

Dibuat kerdil

  • Disini mempunyai arti bahwa karyawan tidak diberikan kesempatan untuk berkembang. Tidak adanya kesempatan untuk berubah ke jenjang jabatan yang lebih tinggi. Kalaupun ada, itu sangat lama. Kemudian kalau sudah berada pada jabatan tersebut, perubahan dari gaji dan fasilitas yang didapatkan sangat kecil perbandingannya dengan beban kerja dan masa kerja yang sudah dilaluinya.
  • Mengapa dengan keadaan ini karyawan saya sarankan mengajukan pengunduran diri? Apabila ini disadari dari awal, maka seorang karyawan tidak akan menghabiskan masa kerjanya di satu tingkat jabatan yang sangat lama sekali mendapatkan kesempatan untuk berkembang. Apabila jalan untuk berkembang memang dikatakan sudah tidak ada (karena terlalu lama), maka sambil menunggu persiapkan diri melakukan alternatif resign.

Sangat Jenuh.

  • Cuti diberikan karena alasan kejenuhan ini. Apabila Anda hanya sekedar jenuh dengan pekerjaan maka cuti dapat menyembuhkan. Setelah cuti Anda akan menjadi segar dan produktifitas kembali lagi. Namun jenuh yang saya maksud di sini adalah sebuah kondisi yang ditekan dari alasan pertama,  yaitu tidak teradapatnya posisi kenaikan jabatan sehingga dalam waktu yang sangat lama Anda melakukan pekerjaan yang terasa menjemukan bagi Anda. Tidak ada tantangan baru, tidak ada target baru, tidak ada pencapaian baru. Semua menjadi dingin dan runitintas pekerjaan Anda hanya menghabiskan jam kerja semata.
  • Keadaan seperti ini menjadikan karyawan menjadi benalu bagi perusahaan. Bisa saja seorang karyawan bertahan sampai pensiun. Biasanya yang melakukan bertahan sampai pensiun adalah mereka yang telat menyadari adanya poin satu di atas. Telalu lama menunggu kenaikan jabatan sampai umurnya melebihi umur produktif dan tidak ada pilihan lagi selain bekerja sampai pensiun. Apabila mereka telat menyadari maka pertanyaan yang sering keluar dari dirinya adalah, “Umurku sudah sekian, mau kemana lagi?”
  • Kejenuhan yang dipertahankan dapat menjadikan karyawan menjadi karyawan yang disebut ‘bad apple’. Ia menjadi apel busuk. Sumber keluhan, sumber umpatan, sumber kemarahan, sumber kekesalan. Dan  semua hal tersebut dapat menular kepada karyawan lainnya. Sebelum kondisi ini semakin membuat Anda rugi, maka ajukanlah pensiun dini.

Meludah di Sumur sendiri.

  • Istilah ini untuk menyebut mereka yang sering menjelek-jelekkan perusahaan sendiri. Faktor pendorongnya adalah poin satu dan poin dua. Bila Anda sudah menyadari bahwa Anda mulai sering menjelek-jelekkan perusahaan Anda di depan teman-teman Anda,  bercerita jeleknya perusahaan Anda pada waktu ketemu dengan teman lainnya di luar perusahaan, maka segeralah ambil rencana pensiun dini.
  • Mengapa? Kondisi ini tidak akan menguntungkan bagi Anda. Kinerja Anda akan dinilai makin turun dan juga menyebarkan berita tidak baik di lingkungan kerja.

Menyadari Kompetensi

  • Ini jarang terjadi. Namun bila kondisi ini yang terjadi maka Anda melakukan pensiun dini secara cerdas! Lho ada to pensiun dini yang cerdas?
  • Perusahaan Anda saat ini menempatkan Anda pada jabatan Anda saat ini. Karena Anda menyadari bahwa perusahaan Anda sangat lama memberikan kesempatan naik jabatan, maka Anda belajar sendiri. Ikut workshop, seminar dan training yang berkaitan dengan pengembangan diri Anda. Karena hal tersebut maka lama-lama kompetensi Anda meningkat dibanding posisi Anda saat itu.
  • Karena Anda menyadari bahwa kemampuan Anda berada jauh di depan dibandingkan dengan posisi Anda, maka Anda mengajukan pengunduran diri dengan sangat sadar akan kondisinya. Kondisi pengunduran seperti ini menjadikan hubungan Anda dengan perusahaan tetap baik. Anda mundur bukan karena benci, bukan karena merasa tidak dihargai, bukan karena kesal atau marah. Anda mundur karena Anda sadar bahwa posisi Anda dibutuhkan oleh orang lain yang mempunyai kemampuan yang berada pada level tersebut. Sedangkan Anda, dengan kemampuan dan kompetensi yang dipunyai akan dapat mandiri, bahkan menciptakan lapangan pekerjaan lainnya bagi mereka yang memulai untuk belajar.

Sayapun menggoreskan tulisan ini waktu itu, setelah saya mengambil langkah untuk resign dari pekerjaan:

Dulu, separo hidupku di udara.
Menjelajahi atas awan untuk  singgah dari satu kota ke kota lain. Melintasi benua hanya dalam hari.  Dan libur pun terhitung dalam putaran jam.

Sebutkan negara mana  yang ingin kau kunjungi, maka esoknya aku sudah ada di sana. Sebutkan  jenis pesawat apa yang pernah kau naiki, maka dari jenis lama DC-9,  Foker 28, sampai pesawat canggih 777 dan Max, pernah aku duduki.

20 tahun bukanlah masa yang singkat untuk tumbuh di lingkungan  penerbangan. Cuaca extreem, return to base, landing gear susah terbuka,  mesin mati satu, turbulance hebat, semua pernah kulalui dengan rasa yang  campur aduk.

Menahan kantuk yang sangat berat, menahan lelah yang teramat sangat adalah bagian dari tanggung jawab yang pernah kujalani.

Bandara merupakan rumahku ke tiga. Yang ke dua pesawat dan yang pertama  adalah rumah yang bahkan dapat dihitung dengan jam aku singgah.

Kalau hanya bercerita tentang kota-kota seluruh Indonesia bahkan dunia,  mungkin itu sudah menjadi lembaran yang tidak lagi menarik bagiku. Ya,  karena rutinitasku akan mengantarkan aku ke sana.

Hingga suatu saat, aku pun bertanya, “untuk apa aku hidup?”

Kuletakkan sayapku bukan berarti aku membencimu.
Aku lepas ‘wing’ kebanggaanku bukan berarti aku tak mau lagi melakukan tugasku.

Aku hanya menyadari, kapan aku terus berjalan dan kapan saatnya aku berhenti.

Dulu kurangi luasnya angkasa, kini kuarungi luasnya kata-kata.
Dulu aku melintas antara benua, kini aku melintas antara lembaran-lembaran makna.
Dulu aku singgah di kota-kota, kini aku singgah di antara pikiran manusia.
Dulu jam terbangku adalah putaran deru mesin pesawat, kini jam terbangku adalah tulisan-tulisan.

Saat ini pun aku masih terbang.
Aku terbang bukan dengan menggunakan pesawat. Aku terbang dengan buku-buku.

Selamat bagi anda semua yang akan mengambil langkah resign dari pekerjaan. Sukses selalu untuk anda!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *