SEBELUM PERANG BARATAYUDA

By | January 7, 2018

Perang besar Baratayuda antara Kurawa dan Pandawa bisa jadi adalah asumsi atau metafora besar dalam kehidupan. Kurawa dan Pandawa bukanlah keburukan dan kebaikan. Dari sisi Kurawa, mereka juga terdapat para ksatria yang penuh komitment dan dedikasi. Dari sisi Pandawa, mereka juga bukan pihak yang selalu benar dan selalu jujur atau selalu baik.
Baik pihak Kurawa atau Pandawa, dua-duanya memiliki sisi jahat dan sisi baik.

Baratayuda adalah pertempuran yang berlangsung sepanjang masa kehidupan selama masih ada kepentingan di dalamnya. Dalam episode perang tersebut, ada hal menarik yang patut kita jadikan refleksi, yaitu kejadian sebelum perang besar tersebut berlangsung.

Pada suatu hari, pihak Kurawa dan pihak Pandawa memandang perlu untuk meminta dukungan kerajaan Dwaraka , kerajaan yang dipimpin oleh Krishna yang mempunyai bala tentara dalam jumlah yang lumayan banyak. Dari pihak Kurawa diwakili oleh Duryudana dan pihak Pandawa diwakili oleh Arjuna. Mereka berdua sampai di Dwaraka pada hari yang sama.

Pada saat kedatangan Duryudana dan Arjuna, Krishna sedang tidur lelap. Namun karena mereka berdua adalah kerabat dekat, maka mereka bisa menunggu di dekat tempat tidur Krishna. Duryudana yang masuk terlebih dahulu kemudian duduk di kursi di dekat kepala Krishna, sedangkan Arjuna duduk di dekat kaki Krishna. Pada saat Krishna bangun yang tampak olehnya adalah Arjuna yang berada di dekat kakinya, baru kemudian Krishna melihat Duryudana.

Duryudana yang kemudian pertama bicara, “Arjuna dan aku sama sama-sama engkau kasihi, kami berdua adalah kerabat dekatmu. Engkau tidak bisa mengatakan salah satu dari kami lebih dekat denganmu. Aku datang kesini lebih dulu daripada Arjuna. Bertindaklah sesuai dengan Dharma dan mohon diingat bahwa akulah yang datang terlebih dahulu.”

Krishna menjawab, “Duryudana, boleh jadi engkau datang lebih dulu. Tapi Arjuna yang aku lihat pertama kali. Maka tuntunan kalian berdua sama bagiku. Aku akan bertanya duluan kepada yang lebih muda, yaitu Arjuna. Arjuna, pikirkanlah masak-masak. Engkau menghendaki aku pribadi yang tanpa senjata atau seluruh tentara Dwaraka yang gagah perkasa?”
Arjuna menjawab, “Aku akan lega jika engkau ada di pihak kami, meskipun tanpa senjata.”

Duryudana sangat gembira mendengar jawaban Arjuna yang menurutnya sangat bodoh tersebut. Duryudana memilih bala tentara Dwaraka lengkap dengan persenjataannya.

Krishna bertanya kepada Arjuna, “Mengapa engkau memilih aku sendirian tanpa senjata, sedangkan bala tentara Dwaraka lengkap dengan senjatanya telah dipilih oleh Duryudana?”
“Aku ingin mencapai kebesaran dan keagungan dirimu. Aku ingin memenangkan pertempuran dengan engkau sebagai sais keretaku.” Di lain cerita,  Balarama, saudara Krishna membawa cerita dan makna tersendiri bagi perang besar Baratayuda. Bagi Balarama, ia memutuskan untuk tidak berpihak kepada Pandawa ataupun Kurawa. Dalam episode perang tersebut, hanya Balarama dan Rukma, yang tidak ikut campur dalam perang Baratayuda tersebut.

Episode Balarama menolak ikut campur dalam perang Baratayuda ini menggambarkan situasi sulit yang sering dihadapi oleh orang-orang baik dan jujur dalam hidup. Dipaksa memilih dua jalan yang sama-sama benar, namun saling bertentangan, seringkali membuat orang berhadapan dengan buah simalakama.
Hanya orang yang jujur yang menghadapi persoalan semacam ini. Orang yang tidak jujur tidak akan menemui persoalan semacam ini karena mereka pasti dikendalikan oleh kemelekatan, kepentingan dan hasrat pribadi.

 

Agung Webe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *