SELF TALK, BAGAIMANA TEPATNYA?

Beberapa kali saya membuat ‘posting pendek’ tentang Self Talk dan tampaknya harus saya buat tulisan agak panjang agar dapat dipahami secara utuh.

Mengapa saya membuat posting pendek yang hampir semua posting tersebut mengatakan bahwa kita tidak butuh untuk memberdayakan self talk? Karena banyak sekali orang (bahkan juga trainer) yang membuat sama kondisi seseorang dalam masalah dirinya agar langsung memperbaiki self talk tanpa melihat latar belakang masalah.

Bagi yang masih asing dengan istilah Self Talk, artinya adalah bicara kepada diri sendiri. Isi pembicaraan dengan diri sendiri ini dapat berupa Afirmasi (penegasan) atau curhat dengan diri sendiri atau bahkan ungkapan emosi (katarsis)

Saya berikan contoh sederhana:

“Aku bahagia dengan segala kondisi yang aku hadapi.” Ini adalah afirmasi

“Gimana sih, aku kan sudah mencoba lagi. Tetapi mengapa gagal?” Ini adalah curhat.

“Brengsek! Dasar Jahat! Aku benci kamu!” Ini adalah ungakapan emosi.

Tidak mengetahui kondisi diri sendiri dengan sebenarnya kemudian melakukan self talk yang diharapkan dapat mengubah kondisi tersebut, bagi saya adalah pemerkosaan terhadap diri sendiri. Seseorang memaksa dirinya berubah sedangkan dia tidak tahu sumber daya yang dipunyai untuk melakukan perubahan tersebut.

Ada orang yang selalu pesimis untuk sukses karena ia hanya lulusan SD. Dan setiap ada kesempatan yang dapat ia lakukan, ia selalu berkata kepada dirinya, “Ah, aku kan hanya lulusan SD. Bagaimana bisa melakukan hal tersebut?”

Kemudian ia bertemu dengan seseorang dan diminta mengubah self talk yang ada menjadi, “Aku hanya lulusan SD, namun aku dapat melakukan sesuatu untu mencapai sukses hidupku.”

Saya tidak sependapat dengan hal di atas, karena orang tersebut belum menyadari sumber daya yang dipunyainya dan memperkosa dirinya sendiri seolah-olah ia dapat melakukan sesuatu tanpa keahlian yang disadarinya. Mengapa ia tidak menyadari keahliannya? Karena ia diliputi ketakutan tentang sekolahnya yang hanya lulusan SD. Namun apabila ketakutan tentang apa yang dihadapinya tersebut disingkirkan terlebih dahulu dan ia didampingi untuk melihat kekuatan atau keahlian yang dipunyainya, maka kepercayaan dirinya akan tumbuh. Pada saat kepercayaan diri tumbuh dan ia menjadi yakin akan dirinya sendiri maka self talk (yang disengaja) tidak diperlukan lagi.

Self talk pada kondisi-kondisi seperti orang yang telah menemukan kepercayaan dan keyakinan akan kekuatan dirinya bukan merupakan kata-kata yang dipaksa dirangkai untuk sengaja diucapkan, namun merupakan kata-kata yang lahir karena kesadaran akan kekuatannya. Memang benar bahwa manusia yang masih hidup dan menggunakan pikirannya pasti akan  mempunyai self talk. Ia bicara dengan diri sendiri, bertanya dengan diri sendiri atau berdiskusi dengan diri sendiri.

Apabila self talk ini merupakan hal yang alami, maka biarkan saja karena self talk hanya merupakan output dari berisiknya sang pikiran. Apabila pikiran tidak berisik tentu saja outputnya tidak berisik. Apabila pikiran mengandung sebagian bersar input-input yang membuat lemah, maka tentu saja outputnya juga yang membuat lemah.

Atas dasar hal di atas kemudian ada yang mencoba membalik rumus menjadi memperbaiki output untuk memperbaiki input. Bisakah hal itu terjadi? Tentu saja kemungkinannya bisa, yaitu dengan memperkosa diri sendiri dan menciptakan false self baru yang merasa bisa padahal input dan proses belum menyadari hal tersebut.

Bagaimana agar input menyadarinya?

  • Satu, yaitu menerima diri sendiri apa adanya, accepting.
  • Dua, yaitu menggali apa yang menjadi Strength (kekuatan diri) dan Weakness (kelemahan diri).
  • Tiga, yaitu menyadari langkah yang dapat dibuat dengan kekuatan yang ada.

Begitu sampai di langkah ketiga, maka self talk akan berubah dengan sendirinya karena adanya kesadaran baru!

Sedikit contoh kongkritnya demikian:

Kondisi pertama,

Ada orang yang ingin ikut lomba lari dan ingin menang, padahal ia tidak tahu apakah ia mempunyai kekuatan untuk dapat berlari atau tidak. Bahkan ia tidak pernah berlatih berlari sebelumnya. Ia kemudian membangun self talk positif: “Aku bisa berlari dengan cepat dan mencapai garis akhir terlebih dulu daripada yang lainnya.” Self talk itu diulang-ulang setiap saat sampai pada hari perlombaan.

Kondisi kedua.

Ada orang yang sudah menyadari kemampuannya berlari. Ia sudah berlatih berlari untuk meningkatkan kemampuan berlarinya. Pada suatu saat itu ikut lomba lari. Di garis awal sebelum mulai, ia bicara dengan dirinya sendiri yang merupakan output dari pikiran yang menyadari kekuatannya: “Aku bisa berlari dengan cepat dan mencapai garis akhir terlebih dulu daripada yang lainnya.”

Dari dua contoh di atas, semoga kita dapat menyadari bahwa, tidak semua hal yang baik dapat dilakukan dengan tepat. Namun apabila kita melakukan hal dengan tepat, maka hal itu akan menjadi kebaikan yang dilakukan.

 

Salam cerdas!